Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

11/04/2011

I don't Know

Pernahkah kalian dilema atas dua buah pilihan yang sangat menentukan kebahagiaan kalian, tawa kalian, air mata kalian bahkan keseluruhan hidup kalian?

Dilema atas sebuah pilihan yang benar benar masuk akal dan disayangkan jika tidak dijalani, namun tidak sesuai dengan kehendak hati kita? emosi kita? keinginan kita?

Sebuah pilihan dimana logika dan hati bermain..

Sebuah hal yang sering sekali ditemukan untuk saling bertolak belakang..

yah, dan berujung meyebabkan penyakit para teenagers yang kita sebut dengan "galau". Gagal dan Kacau.

Sebuah keinginan dari hati yang sebenarnya juga belum tentu merupakan hal yang memang kita butuhkan, namun tekad dan niat yang begitu keras untuk bisa meraih dan menjadikan keinginan itu sebagai sebuah kenyataan yang MUNGKIN tidak dibutuhkan seperti pemikiran sang LOGIKA yang sebenarnya jauh lebih dibutuhkan untuk kitanya sendiri.

Logika yang selalu berdasarkan pada sebuah landasan yang logis, masuk akal, wajar, dan idealis juga kritis. selalu tergambarkan sebagai sesuatu yang rumit untuk dilaksanakan dan bertentangan dengan keinginan yang biasa kami sebut sebagai perasaan ---Kaum Hawa.

(untuk yang kaum Adam, maaf ciken ga bisa komentar apa apa)

Lalu apa yang biasa kalian lakukan ketika dihadapkan sebuah dilema seperti itu? Berdoa? Solat Istikhoroh? Meminta solusi dari beberapa orang sahabat, orang tua, atau mungkin seorang psikologis? ya kurang lebih banyaknya seperti itu kan...

kita memerlukan sebuah jawaban yang sesuai dengan kita..dimana logika dan perasaan itu bisa bermain secara imbang.

tapi mau minta sama siapa si jawabannya itu? toh sebenarnya cuma kita yang berhak dan berkewajiban mengeluarkan jawaban itu sendiri. Masa orang lain? hidup kita mau dikontrol orang lain? kalau ada apa apa mau minta tanggung jawab orang lain yang sudah memberikan keputusan atas hidup kita? hidup kita kan bukan barang yang kalau rusak bisa diganti sama barang yang baru. Hidup kita ini only the first and the last edition, brader.

Memang aneh sih...seakan..kita bertanya..namun jawabannya itu juga sebenarnya ada pada kita...terus ngapain bertanya?

Mencari clue kalau jawabannya itu dari dulu ada dalam diri kita.

pertanyaan pertanyaan itu hanya meyakinkan kita yang ragu pada diri kita sendiri kan? karena kita takut salah dalam mengambil langkah, dan mungkin merreka orang yang telah kita 'tanyai' memiliki pengalaman lebih soal dilema ini dan bisa membantu kita dengan saran dan solusi yang telah ia ucapkan..

Sekali lagi, hidup kita tidak sama dengan orang lain..mereka memiliki jalan mereka unutk menghadapi dilema mereka masing masing dan kita juga punya hal yang sama. Belum tentu kan solusi yang mereka berikan dapat sesuai dengan hidup kita?

kalau ada orang sakit normalnya dikasih obat, dengan seseorang yang tidak pernah biasa minum obat ketika sakit..apakah keduanya diperlakukan sama saat mereka sakit?

kadang ciken juga suka aneh dengan kata motivasi "Kalau mereka bisa, anda pun juga bisa!"

yah memang sangat memotivator...ciken pun pernah merasa sangat bersemangat dengan quote ini..

tapi ciken pun kemudian sadar dengan satu hal...Kami memang manusia, berfisik sama dan mungkin juga berbeda..tapi...bakat kami..sama kah? Keinginan kami sama kah? kehidupan kami sama kah? Tujuan hidup kami sama juga kah?

"iya mereka bisa, tapi aku bukan mereka..."
kalimat yang selalu terlontar dari dalam hati ciken setiap kali mendengar kalimat yang memiliki arti seperti motivator quote seperti yang diatas.

 sebuah keputus asaan? ngga juga sih...aku hanya membutuhkan sebuah solusi dengan cara yang berbeda...bukan yang seperti itu. Karena ciken tahu, solusi yang satu itu ngga pas dan belum atau bahkan ngga sesuai dengan kehidupan ciken.

Oh, damn. dilema menggila edaaaan. (maaf)

sekarang ciken bener bener bingung..kalau ciken ngikutin logika ciken..ciken mungkin bakal sakit hati buat akhir akhir ini...karena, mungkin aku bakal kehilangan sesuatu yang sudah cukup menjadi berharga buat ciken.

Tapi di sisi lain, I SAID NO WAY to do that irritating thing.

hahaha...Sang logika dan Sang Perasaan..mereka kembali bertengkar hebat di dalam tubuh seorang manusia Labil....saya.

Keputusan...keputusan seperti apa ya yang nantinya akan keluar?

yang terbaik dari yang terbaik kah?

atau yang terbaik dari yang terburuk?

atau mungkin yang terburuk dari yang terburuk?

Aku memang punya masa depan. Dan hari ini juga adalah langkah untuk menuju masa depan...

apa ciken akan menyesal nanti? I don't know.

Apa amannya berhenti sekarang? I don't know.

Tapi siapa yang tahu kalau apa yang ciken lakukan sekarang ini berakibat buruk atau tidak untuk kedepannya (walaupun ada landasan dari sang logika yang selalu realistis)? I don't know.


oh, bloggers sorry for spamming.

------abaikan.

10/12/2011

3 Great Stories from Steve Jobs really MADE ME LIVE!


hey bloggers! tonight was a quiet harsh time for me. Why? Because another task? Nah...I love this time tasks. Tonight I disappointed someone (again) because my stupid innocent personality. Sorry for everything..


***

fuah! gotta be cheer up!

Hey Bloggers! Do you ever watch or maybe read about Steve Jobs's speech on Stanford University on 2005 ? (hahaha it's 6 years ago, man!) 

If you never watch it, WATCH NOW!


Steve Jobs on Stanford University 



This Steve Jobs's Speech totally made me speechless. I don't know how to express my admiration, or anything! My heart touched too deep by his words. But Really, If you know and you understand what was Steve Jobs talk about you'll have a new way to face your life. There's no way to be pessimist, he gave me the way to always be positife in facing the rocky ways of life. 

 Connecting the dots, Learn to Love and Loss, Then Death.

Something that exactly are usuall to hear, but there were rarely one if you could found someone that learn deeply and make them as a lesson just like Steve Jobs's did. Lot of us always moaning everytime when we had given hard days to pass by, some people there's also giving up their life easily when they can't face their own trouble. Mostly they can't follow what their hearts said. Same as me, I always did the same thing. No offense.

It's totally A SPEECH! I DO LOVE IT! (Thank you for gave us a task to watch his speech, our best lecturer!)

Steve Jobs was right about loving something "It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. " and "And the only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking. Don't settle. "

Love everything what I did would make everything turn better and better. And I won't ever stop if I'm not finished it yet! Say, It's not a lie if I said that I can found things that I loved, but it's only several things. Really. It's a quite often days when I found something that seldomly I loved. And, I can't do my best for it. I did it as I want to, not as I can to. My Brother ever said that I should enjoy all the things that I don't like at first. Anything. Even I really hate it, I have try to enjoy it. Because, we love something because we're enjoying being on it, aren't we?

Simple, but uneasy. But it works on me. You should try my brother's advice. I'm sure you will decrease the everything-that-I-do-not-like- lists. For example. I never like when someone always take a chance on my humble side. And it always mada me to have a disapoint and hate. And they were my own besties. But I tried to enjoy it, and take it easy. Thought positively that they were not taking any chances on me. Enjoyed the days as usuall, still keep a lot of smiles and laughter as I was totally like it. And soon, I enjoyed those days and my friends stop taking any chances of me. They said, my smiles and cheerfullness made them feel guilty day by day. And I just Laughed. At the end I enjoyed to have a silly friends like them. At last they're only want to show that they're have a trust on me. That's why they always ask me for every help that my mom looked that they wereonly  taking a chance on myself. 

But after all, they didn't.

And the last, DEATH.

Honestly I seldomly thinking about this word. It annoys me a lot, Frightening me, I prefer talk about the other things. Why? I'm afraid of the death. Even they said there's only GOD that you have to be afraid of, but afraid is afraid, folks! I can't lie if I'm also afraid to this kind of life things. Steve Jobs gave me a lesson again from his speech, what is it?

"Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart."

Woah, following my own heart is a hard thing to do..really haha. But, another clever thoughts from Steve Jobs. Sometimes or maybe from now on I should have this thought on my habbits. It should motivate me the most to do the best for all the things I'll do. There's still a lot of things that I didn't do it as best as I can. I have to try! Well, I hope I can face it. This speech wa totally a GREAT LESSON! 

Thanks a Lot Mr.Ramdhan Adhi :)
Thanks a Lot Readers

The most from everthing, Thank You My Rabb :)

10/10/2011

Nilai Guna? Not Important. Kesan? That's IT!

Hai Bloggers! Postingan kali ini ciken sengaja menggunakan Bahasa Indonesia saja ya?
Kenapa? Yah, kalau terus terusan menggunakan bahasa asing, nanti ciken bisa lupa sama bahasa Tanah kelahiran sendiri :)) #sok #padahalmales

Umm..Posting apa ya? *lirik judul

Kalau kalian lihat judul, bloggers. Kalian bisa mengira-ngira tidak apa yang ciken maksud dari penulisan judul itu? Ciken ngga pake teori teori ekonomi kok mentang mentang ada kata 'Nilai Guna', ciken kan masih kelahiran IPA *LOL*

Nilai guna disini itu selalu ya ditujukan pada sebuah barang maupun jasa, tapi untuk beberapa keadaan ciken ga memprioritaskan hal tersebut untuk menjadi 'limit' pengeluaran ciken atas kebutuhan ciken. Karena ciken membeli barang  barang tersebut bukan karena hal tersebut kebutuhan ciken, tapi justru untuk orang lain.

Ciken mengarah pada sebuah  benda yang selalu menjadi sumber rasa penasaran dan juga rasa bahagia jika seseorang mendapatkannya dengan cara yang baik tentunya, HADIAH. Ya! A Gift! A Present! *cheers*

Kadang banyak teman ciken pusing dan repot sendiri kalau mereka harus memilih sebuah barang untuk dijadikan kado yang dapat berguna untuk seseorang yang sedang berulang tahun. Bahkan mereka bisa mencari benda tersebut lebih dari 5 jam di berbagai Mall/Shopping Centre yang berbeda -____- RAWR!

Ciken seperti itu?

5 Jam keliling di tempat yang berbeda beda..

Belum lagi bimbang dan galau antara memilih satu dari ribuan barang 'imut' 'lucu' dan hal hal sebagainya yang bersifat 'unyu' untuk sang pemilik hari yang kian bertambah umurnya tahun itu..

It makes me MAD -___-

Ciken lebih suka mencari sebuah barang 'aneh' dan barang barang yang jarang terfikirkan untuk orang lain jadikan sebagai hadiah. Sebuah barang yang selalu saja tidak ada nilai gunanya untuk sang pemilik hari ulang tahun. Sebuah benda aneh yang membuat banyak orang mengatakan,'Buat apa cobaa ini cik?!','Naon ieu?!','Ini mah bukan kado, ini mah emang barang milik gue kamfret!' :3

Berbagai komentar yang mengocok perut sebenarnya...hahahaha!!

Ya! ciken lebih memilih mereka berkomentar seperti itu, karena hal hal bodoh tersebut yang membuat ciken akan selalu ingat dengan hari itu dan juga sebaliknya. (Kaya yang iya aja si pemilik ulang tahun bakal inget kamu cik)

Bahkan ciken pernah memberikan sebuah kado berbungkus besar dan mewah, namun isinya hanya mainan anak kelas 5 SD yang kalau diputar knopnya dia bisa jalan sendiri....krik.

Tawa hari itu benar benar menggelegar!

Bahkan ciken pun pernah memberikan boneka kambing yang maaanis sekali untuk teman bergender 'laki-laki' (namun masih diragukan sih) ciken dengan wajah si yang ulang tahun di muka bonekanya. Huffet! hahaha

Oh ya! ada juga sebuah album kecil berisi foto foto yang 'tidak biasa' antara si yang ulang tahun dengan beberapa kecengannya (ciken edit fotonya seakan mereka lagi foto bersama). Dan sekumpulan accesoris bekas ciken yang masih layak pakai dan dimasukkan kedalam kotak yang masih baru :)) ---> si yang ulang tahun bahkan kenal banget itu accesoris yang biasa ciken pake ke SMA akakaka

Nah, hanya berbagi sebuah argumen kalau kado tidak harus selalu yang memiliki nilai guna. Kadang lebih banyak mereka yang mencari sebuah kesan dalam isi kado tersebut. Hingga mereka tidak akan pernah lupa semudah itu dimana, kapan dan siapa yang memberikan kado BODOH tersebut.

Laugh with Some Little Kicks and Punches are the best Response after Giving a Birthday present :))

12/18/2010

Bola masuk kedalam kertas

      Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?
     Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya?

      Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi.

    Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu.

     Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis ke dalam lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya.

      Unyuw…! Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan.

Mama, jangan marah..

     Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
     Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!” Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu.
Siapa namamu anak manis?”
“Nama saya Elic, Tante.”
“Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?”
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric…
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.
“Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” tTpi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. ..
     Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangissaya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric… Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah.
     Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. .. Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir
dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”
Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…?
Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu.
“Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana .
Nyonya,dosa anda tidak terampuni!”
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

wah, buddy .. apakah kalian tau ? ini cerita nyata loh :)
Thank You !

12/03/2010

Nirwana Saling Rindu

Buddies !
cikeen punyaa something great to share !
ini ada cerpen bikinan buddy ciken :)
Dia punya tugas buat bikin Cerpen (Cerita Pendek) ---> CULUN kalo ga tau
Dan ketika ciken baca, cerpeeeeeennyaaa unyuuuuu bangeeeeet >___<
pokoknya ciken suka bangeeet cerpennya hahaha
mana dia emang punya bakat penulis (Lah gue?)

iniii cerpeeen nyaaa :))
jangan di copas tanpa izin apalaagi mengatasnamakan yah >:(




Nirwana Saling Rindu

Langit itu biru. Daun itu hijau. Semua orang juga tahu, karena itu sudah tentu. Pernyataan yang tak bisa belok.
Begitu juga dengan kamu. Yang selalu tersenyum malu. Dan sama seperti filosofi langit-daun tadi, semua orang juga mungkin tahu cantikmu, apalagi kalau kamu tersenyum. Begitu manis, menggetarkan hatiku. Pernyataan tulus dari hatiku untuk kamu yang elok.
Seandainya ini masih jaman dulu, entah jaman kapan saat kata-kata gombal seperti : “Sayang, kalau aku jadi bulan, kamu jadi apa?” menjadi tren dalam dunia cinta-cintaan anak muda penuh gelora.
Dalam khayalanku, aku membayangkan seandainya aku punya kesempatan untuk bertanya kata-kata gombal itu padamu. Oh, bukan bertanya. Tetapi memberi pernyataan langsung. Akulah bulannya, dan kamu? Kamu terserah mau jadi apa. Tapi melihat elok wajahmu, pernyataan itu terbalik, kamu yang jadi bulannya. Karena kamu memang seperti layaknya bulan yang bersinar terang benderang di langit malam. Dan kamulah yang menentukan aku menjadi apa. Tapi… siapa aku?
Aku cuma si pemimpi. Berusaha berwibawa tapi tetap nihil, karena aku seorang pemimpi yang penuh dengan keraguan. Aku selalu berjalan meniti langkah hidupku dengan hati-hati, tanpa keyakinan yang pasti. Mereka bilang, kalau mau sukses, kita harus berani ambil resiko yang tinggi. Tebas semua penghalang yang ada. Aku kira kamu juga tau itu kan? Karena kamu begitu cerdas, membuatku kagum setengah mati.
Kalau kamu berada di radius yang dekat denganku, hatiku terasa bergetar. Bukan sekedar gombalan biasa, ini jujur dari hati. Kamu memiliki aura yang bisa membuat diriku hangat, walaupun saat itu sedang hujan lebat, lebat sekali dan udara menjadi dingin. Kemanapun kamu melangkah, aku juga ingin mengekor. Aku terbuai dalam derap langkah manismu yang seakan-akan langkah itu berjanji, kalau aku bisa ikut kemanapun kamu pergi.
Apapun yang aku lakukan, kamu selalu terbayang. Senyummu, gerak-gerikmu, caramu berbicara, caramu tertawa (yang membuat aku bahagia) dan semua tentangmu ada di benakku. Kamu bagai pusat nirwana yang khusus dibuat untukku di muka bumi ini.
Dari pertama kita bertemu, saat kita masih menjadi bocah dulu, kamu membuat kesan pertama yang membuat pandanganku padamu menjadi berbeda selamanya. Caramu dulu menolongku ketika aku terjatuh dari sepeda di taman bermain di kompleks saat kamu masih belum pindah dari rumahmu yang dulu, membuat hatiku dipenuhi kagum. Kamu berlari-lari kecil kearahku, dengan wajah panik dengan maksud kamu mau menolongku dengan rasa tulus. Lalu kamu mengulurkan tanganmu, membantuku bangkit berdiri. Membersihkan bajuku yang kotor terkena debu, lalu menatapku dan bertanya apakah aku baik-baik saja?
Aku terharu. Seperti Malinkundang yang membatu, aku malu. Bukan karena aku durhaka pada ibuku, tapi karena perhatianmu dan pertanyaan polos dan tulusmu itu.
Setelah kamu pindah, aku mengira kita tidak akan bertemu lagi. Tapi, ternyata takdir berkata lain. Kamu dan aku bersekolah di  SMA yang sama, tiga tahun belajar bersama, di kelas yang berbeda.
Waktu masa pengenalan sekolah dulu, kamu tersenyum, menyapaku dengan akrab. Menepuk punggungku dengan ramah lalu bertanya :
“Hey, dulu kamu tetangga sekompleks aku kan?”
Dan aku hanya menjawab dengan anggukan.
Setiap naik kelas, aku selalu berharap bisa sekelas denganmu. Menimba ilmu di ruang yang sama denganmu. Memandang cantiknya parasmu diam-diam, lalu bicara denganmu, sebentar saja.
Tapi nyatanya aku tidak pernah sekelas denganmu. Kalau bertemu, aku hanya bisa tersenyum malu. Dan seperti biasa kau akan membalas senyumku dengan senyum terindah di dunia.
Kita saling tersenyum, tanpa bicara. Lagi pula mau bicara tentang apa?

***

Sekarang sudah delapan tahun sejak kita lulus SMA. Aku sudah dewasa, dan kamu juga. Semenjak kita lulus SMA, tak pernah aku lihat parasmu dan senyummu lagi. Seandainya ketika SMA dulu aku berani mendekatimu, mungkin sekarang kau menjadi milikku, dan akan tumbuh tua bersamaku.
Tuhan memberiku waktu tiga tahun di SMA, kesempatan untuk mendekatimu. Tapi aku menyia-nyiakan kesempatan itu. Hey nirwanaku, sedang apa kau disana? Rindu aku padamu. Dan ijinkanlah aku memanggilmu nirwana.
Karena
Aku
Pria
Paling
Pengecut
Hanya
Bicara
Saja
Tidak
Berani
Lalu titik(.)



Kata orang-orang, kalau jodoh tidak akan kemana-mana. Mendengar itu, sebenernya sih aku pengen ketawa. Antara percaya dan tidak. Dipikir-pikir, aneh juga sih. Bayangkan, tanpa susah-susah bergerak kemana-mana, jodoh bakalan datang dengan sendirinya. Haha iya deh, kalau kamu cantik, lucu, imut dan manis kayak madu. Tinggal diam saja, lebah-lebah pada datang mengerumuni. Tergiur manisnya si madu. Aduh enak ya jadi madu? Tapi kalau dipikir-pikir, manis sih iya, tapi kalau lebah yang datang cuma buat merasakan manisnya saja terus kalau sudah selesai langsung pergi, apa bagusnya?
Ngomong-ngomong soal madu dan mengingat tentang kamu, aku juga ingin menjadi madu, tapi hanya untukmu. Dengan ijin Yang Maha Esa, tentunya. Supaya hubungan kita halal, dan kita menjadi keluarga kecil yang bahagia.
Bicara tentang kamu yang megah batinnya, rasanya tidak pantas bagi seorang seperti aku mengharapkanmu. Sekarang mari bicara dulu tentang aku.
Aku? Tidak ada yang spesial dariku. Dari segi fisik aku jauh dari kata cantik, walaupun mereka bilang cantik itu relatif tapi aku kurang bisa percaya itu. Setidaknya dalam standar cantik Indonesia, cantik itu identik dengan kulit putih mulus, badan langsing, muka manis, rambut lurus panjang hitam mengkilap, dan postur tubuh tinggi.
Sedangkan aku?
Kulit tidak pantas di sebut putih. Berbagai merk lotion pemutih sudah aku coba, tapi tidak memberikan hasil yang signifikan. Lalu aku menyerah, menerima dengan ikhlas dan lapang dada warna kulit pemberian Tuhan Yang Maha Esa ini.
Badan langsing, bolehlah. Tapi di tubuhku banyak lemak berkeliaran disana-sini dengan riangnya. Maka, aku tidak langsing.
Muka manis, aku tidak tau harus memulai dari mana mendeskripsikan muka manis untuk wajahku yang standar ini.
Rambut lurus panjang hitam? Hahaha, rambutku itu kain.
Postur tubuh tinggi? Yang ini benar, tapi bila aku dijejerkan dengan kurcaci.
Jadi, dari segi apa aku menariknya untukmu?
Supaya tidak terlihat terlalu tidak menarik (tidak cantik yang diperhalus). Aku perbanyak tersenyum.

***
Aku mengenalmu sejak aku tahu rumahmu yang bercat biru itu dekat dengan rumahku, yang artinya kita bertetangga. Tapi karena perbedaan gender, kita tidak pernah bermain bersama. Aku bermain boneka dengan teman-temanku, kamu berbalapan sepeda dengan teman-temanmu.
Tapi aku kagum padamu, karena kamu baik dan tidak pernah menggangguku. Memperlakukan aku dengan sopan, tidak seperti anak laki-laki lainnya yang suka menggangguku. Menarik kepangan rambutku, membuatku menangis, lalu pergi begitu saja tanpa meminta maaf sambil menjulurkan lidah.
Yang paling membuatku berkesan, apabila pohon jambu air di lapangan kompleks berbuah lebat dan anak-anak satu kompleks berebut memanjat untuk memetik buah (terutama anak laki-laki), dan kami anak-anak perempuan hanya bisa menonton, kamu datang kepadaku. Memberiku beberapa buah jambu air, lalu tersenyum, dan pergi lagi kembali bermain dengan teman-temanmu.
Mungkin kamu baik karena keluargamu yang sederhana itu telah membentuk pribadimu yang baik itu.
Setelah kumandan adzan Maghrib, sering kudengar suara lantunan Quran dari rumahmu itu. Dan aku pun menjadi kagum. Betapa taatnya kelurgamu akan ajaran agama.
Tapi, karena suatu hal, keluargaku harus pindah rumah. Itu berarti aku harus meninggalkanmu. Aku kira, setelah pindah rumah aku akan berpisah selamanya denganmu.
Dan takdir pun berkata lain. Kita satu SMA. Aku masih ingat bagaimana aku menyapamu di hari pertama masa pengenalan sekolah dulu. Sebenarnya aku malu, tapi aku pura-pura berani. Karena aku bertemu denganmu lagi. Aku sangat senang, bagaikan menemukan jarum di tumpukan jerami.
Setiap kenaikan kelas, aku selalu berharap nama kita berada di satu daftar nama yang sama. Dan dihari-hari selanjutnya, aku hanya bisa tersenyum bila bertemu denganmu. Ingin rasanya bicara denganmu, walaupun hanya satu kalimat saja.
Menjadi teman dengan orang berbudi baik sepertimu, yang selalu rajin ke mushola untuk menghadap sang Illahi.
Yang lebih banyak bekerja daripada bicara. Yang santun sederhana, tipikal pemuda harapan bangsa dan kebanggan ibunda. Yang apabila aku menjadi milikmu, kamu bisa menuntunku kearah yang benar.
Ah, andai aku menarik. Pasti kamu suka.

***
Sekarang sudah delapan tahun semenjak kita lulus SMA, dan aku tidak pernah melihatmu lagi. Apa kabarmu disana? Baikkah? Jadi apa kamu sekarang? Aku ingin tahu semuanya tentangmu.
Masih ingatkah kamu padaku? Ini sebenarnya yang paling ingin aku tahu.
Mereka bilang, kalau jodoh tidak akan kemana-mana.
Dan disinilah aku. Hanya bisa menunggu. Menunggu apa? Haha aku juga bingung sebenarnya. Mau berdoa pada Yang Maha Esa juga aku malu duluan. Aku tidak pantas untukmu, yang penuh wibawa dan berbudi pekerti.
Mengharapmu saja aku tidak pantas.
Jadi aku cuma bisa terus berharap dan berharap, dan merindukanmu.
Layaknya nirwana yang indah, begitu juga kamu. Indah tapi susah juga untuk digapai.
Maka ijinkanlah aku menjadikanmu nirwana, setidaknya dihatiku.
Dan Selesai.



 Written by Dessy Nur Amelia



Kalau mau, DOWNLOAD aje :)

Favorite Quote

What We Want Is Not Always What We Need.